Jumat, 24 Oktober 2014

SIFAT MUKMIN



SIFAT MUKMIN (Qs. Al-Fath: 29)
   MAKALAH
                                        Disusun guna Memenuhi Tugas
                                         Mata Kuliah: Tafsir Tarbawi
                         Dosen Pengampu: Mohammad Hasan Bisyri, M.Ag
                                                                                            
                                                        Oleh:

A. BAHRUL ULUM 

                                                      KELAS L
          JURUSAN TARBIYAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
                 SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) 
                                                   PEKALONGAN
                                                            2014


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Surat al-fath (kemenanagan) adalah surah ke-48 dalam Al-Qur’an, surah ini tergolong suarah madaniyah yang terdiri atas 29 ayat. Dinamakan Al-fath yang berarti kemenangan diambil dari perkataan fat-han yang terdapat pada ayat pertama surah ini.
Sebagaian besar dari ayat-ayat surah ini menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan kemenangan yang dicapai nabi muhammad saw dalam perangnya.
Nabi muhammad saw sangat gembira dengan turunnya ayat pertama surat ini. Kegembiraan ini dinyatakan dalam sabda beliauyang diriwayatkan sahih bukhori: sesungguhnya telahditururnkan kepada satu surat, yang surat itu benar-benar lebih aku cintai dari seluruh apa yang disinari matahari.
Kegembiraan nabi muhammad saw itu ialah karena ayat-ayatnya menerangkan tentang kemenangan yang akan diperoleh muhammad saw. Dalam perjuangannnya dan tentang kesempurnaan nikmat Allah kepadanya.

B.     Rumusan masalah
1.      Apa kandungan dari suarat Al-fath 29?
2.      Bagaimana makna mufradat dari surat Al-fath 29?
3.      Apa isi tafsir dari surat Al-fath 29?
4.      Bagaimana kandunagn hukum surat Al-fath 29?

C.    Metode pemecahan masalah
            Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui studi literatur/metode kajian pustaka, yaitu dengan menggunakan beberapa referensi buku atau dari referensi lainnya yang merujuk pada permasalahan yang dibahas. Langkah-langkah pemecahan masalahnya dimulai dengan menetukan masalah yang akan dibahas dengan melakukan perumusan masalah, melakukan langkah-langkah pengkajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran, perumusan jawaban, dari berbagai sumber.


D.    Sistematika Penulisan Makalah
            Makalah ini ditulis dalam 3 bagian, meliputi:
Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang masalah, perumusan masalah, metode pemecahan masalah dan sistematika makalah
Bab II, adalah pembahasan
Bab III, bagian penutup yang terdiri dari simpulan




















BAB II
  PEMBAHASAN
                                    SIFAT MUKMIN (Qs. Al-Fath: 29)
مُحَمَّدٌرَسُوْلُ ﭐﷲِ, وَﭐلَّذِيْنَ مَعَهُ أَشِدَّآءُ عَلىَ الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ, تَرٰهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُوْنَ فَضْلاً مِّن اﷲِ وَرِضْوٰنًا, سِيْمَا هُمْ فِي وُجُوْ هِهِمْ مِّنْ أَثَرٍ ﭐلسُّجُوْدِ, ذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى ﭐلتَّوْرَىٰةِ, وَمَثَلُهُمْ فِى ﭐلإِنْجِيْلِ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْعَهُ،فَأَزَرَهُ، فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلىَ سُوْقِهِ يُعْجِبُ ﭐلزُّرَّاعَ لِيُغِيْظَ بِهِمُ ﭐلْكُفَّارَ, وَعَدَ ﭐﷲُ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا وَعَمِلُواْ ﭐلصّٰلِحٰتِ مِنْهُمْ مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيْمَا﴿۲۹﴾
Artinya: “ Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu liat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoanNya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah ia dan tegak lurus diatas pokoknya; tanaman itu meneyenangkan hati penenam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orag-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang sholih diantara mereka, ampunan dan pahala yang besar.[1]
Makna Mufradat
1.      - اَشِدَّاءْAsyidda’ : keras
2.       - رُحَمَاءُ Ruhama’u : penyayang
3.      - فَضْلًاFadlan : pahala
4.       -مَثَلُهُمْMasaluhum : sifat orang-orang mukmin yang ajaib sesuai dengan yang di katakan dalam perumpamaan-perumpamaan tentang keindahannya.
5.      اٰزَرَهُ azarahu : membuai dan memperkuatnya.
6.      اسْتَوٰى عَلَى سُوْقِهِistawa ‘ala suqihi: tegak lurus pada batang dan pokoknya.
7.      السُّوْقِas-suq : pokok tanaman[2].
8.       شَطْاَهُSyat’ahu
Asy-Syat’ jamaknya al-asyta’ artinya tunas. Pada mulanya kata Asy-Syat’ berari pingggir, sebagaimana pada ungkapan syati’ul-wadi’ artinya pinggir lembah. Jika ada tumbuhan lalu muncul dikiri kanan tumbuhan tersebut tunas baru, maka dinamakan Syat’uz-zar’i. Al-Qur’an memberikan perumpamaan para sahabat nabi yang tadinya sedikit menjadi banyak, yang tadinya lemah menjadi kuat, sebagaimana tumbuhan yang tadinya sedikit lalu muncul tunas-tunas baru yang menjadikan tumbuhan itu menjadi banyak dan kuat.
9.      اَثَرِ السُّجُوْد Asar as-Sujud
Asar as-sujud artinya “bekas sujud” artinya muka mereka tampak bersinar dan bercahaya, karena kecintaan mereka kepada Allah menimbulkan kedamaian pada hati mereka. Kenikmatan beribadah karena banyak beribadah kepada Allah baik siang maupun malam hari membawa dampk pada muka mereka, jadilah muka mereka menjadi bersinar, bercahaya, teduh, tenang dan tentram.





10.   - التَّوْرَاةAt-Taurah
Kata Taurat, dalam bahasa arab, berasal dari kata bahasa Ibrani Torah, yang berarti pengetahuan, hukum, intruksi, dan sebagainya. Pengertian Torah kehidupan beragama orang yahudi sering meliputi Talmud dan semua kepustakaan agama yahudi[3].
Tafsir
(29) Ayat ini menerangkan bahwa Muhammad SAW adalah Rasul allah yang diutus kepada seluruh umat. Para sahabat dan pengikut Rasul bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi lemah lembut terhadap sesama mereka. Firman Allah:
يَآيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْامَنْ يَّرْتَدَ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهِ فَسَوْفَ يَأْ تِى اللهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهُ, اَذِلَّةٍ عَلَى الْمُوءْ مِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكَفِرِيْنَ, يُجَاهِدُوْنَ فِى سَبِيْلِ اللهِ.
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa diantara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah.
Rasulullah bersabda:
Perumpaan orang-orang mukmin dalam kasih mengasihi dan sayang menyayangi antara mereka seperti tubuh yang satu; bila salah satu anggota badannya sakit demam, maka badan yang lain merasa demam dan terganggu pula. (Riwayat Muslim dan Ahmad dari an-Nu’man bin Basyir)
Orang-orang yang beriman selalu mengerjakan shalat dengan khusyuk, tunduk, dan ikhlas, mencari pahala, karunia dan keridhoan Allah. Tampak diwajah mereka bekas sujud.
Mengenai cahaya muka yang beriman, usman berkata, “adapun rahasia yang terpendam dalam hati seseorang: niscaya Allah menyatakannya pada raut mukanya dan lidahnya.” Sifat-sifat yang demikian itu dilukiskan dalam taurat dan injil.
Para sahabat dan pengikut Nabi semula sedikit dan lemah, kemudian bertambah dan berkembang dalam waktu singkat seperti biji yang tumbuh, mengeluarkan batangnya, lalu batang bercabang dan beranting, kemudian menjadi besardan berbuah sehingga menakjubkan orang yang menanamnya, karena kuat dan indahnya, sehingga menambah panas hati orang kafir.
Kemudian kepada pengikut rasulullah SAW itu, baik yang dahulu maupun yang sekarang, Allah menjanjikan pengampunan dosa-dosa mereka, memberi mereka pahala yang banyak dan menyediakan syurga sebagai tempat yang abadi bagi mereka. Janji Allah yang demiian pasti ditepati[4].
Kandungan Hukum
مُحَمَّدٌرَّسُوْلُ اﷲِ
            Sesungguhnya Muhammad SAW. adalah rasul Allah tanpa diragukan lagi dan tanpa disangsikan lagi sekalipun diingkari oleh orang-orang yang ingkar dan didustakan oleh orang-orang yang keras kepala.
وَالَّذِيْنَ مَعَهُۤ اَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ
            Sesungguhnya sahabat-sahabatnya yang ada bersamanya adalah keras hatinya terhadap orang-orang kafir tetapi lembut hati mereka kepada sesamanya, lunak jiwanya terhadap sesamanya dan merendahkan diri mereka terhadap sesamanya.
تَرٰهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلاً مِّنَ اﷲِ وَرِضْوَانًا
            Kamu lihat mereka senantiasa melakukan shalat dan ikhlas kepada Allah dengan mengharapkan pahala dalam shalatnya itu serta upah yang banyak di sisi_Nya seraya memohon ridha-Nya. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar.”(at-Taubah : 72)

سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِاللسُّجُوْدِ
Pada mereka terdapat tanda yang baik kekhususan dan ketundukanyang tampak bekasnya pada wajah mereka. Oleh karena itu dikatakan “ sesungguhnya kebaikan itu mempunyai cahaya dalam hati dan sinar pada wajah keluasan pada rezeki dan cinta yang tertanam di hati orang banyak.”
            Sesudah itu Allah SWT. Memberitahukan bahwa Dia memuji kelebihan orang-orang mikmin dalam kitab-kitab yang pernah diturunkan dan berita-berita yang beredar di kalangan manusia. firmanNya:  
                                                                                          ذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِالتَّوْرٰىة
            Sifat yang disebutkan mengenai kaum tersebut, yakni sifat-sifat dari para pengikut Muhammad SAW.merupakan sifat-sifat mereka yang tercantum dalam kitab Taurat.
وَمَثَلُهُمْ فِى اْلاِنْجِيْلِ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْاَهُ فَاٰزَرَهُ فَسْتَغْلَظَ فَاسْتَوٰى عَلَى سُوْقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعُ
Sesungguhnya para sahabat Muhammad SAW.asalnya sedikit. Kemudian mereka samakin bertambah dan menjadi banyak dan semakin kuat bagaikan tanaman yang mengeluarkan tunas-tunasnya yang bercabang-cabang pada sisi-sisinya sebagaimana dapat disaksikan pada gandum, dan lain-lainnya. Sehingga tanaman itu menjadi kuat dan berubah dari asalnya yang kecil menjadi kuat dan tegak lurus pada pokoknya, sehingga membuat para penanamnya kagum karena kuat, kokoh, lebah dan indah di pandang.
Kemudian Allah SWT.menerangkan bahwa orang-orang mukmin Dia jadikan sedemikian rupa:
لِيَغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ
            Bahwasannya Allah SWT mengembangkan orang-orang mukmin dan memperbanyak jumlah mereka adalah untuk membikin jengkel orang-orang kafir terhadap mereka. Karena orang-orang mukmin berkeyakinan bahwa Allah pasti menyempurnakan cahayaNya lewat orang-orang mukmin, sekalipun orang-orang yang ingkar tidak rela.
وَعَدَاﷲُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاوَعَمِلواالصّٰلِحٰتِ مِنْهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًاعَظِيْمًا
            Allah SWT menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan kepada Nabi muhammad saw, bahwa Allah akan menganpuni dosa-dosa mereka dan memberi pahala mereka banyak-banyak, yakni dengan memasukkan mereka ke dalam surga yang penuh kenikmatan. Dan janji Allah adalah benar, hak tak mungkin diganti dan tak mungkin disalahi[5].












BAB III
         PENUTUP
kesimpulan
1.      Kabar gembira bagi nabi saw, tentang kemenangan dan kejayaan agama Allah.
2.      Janji untuk orang-orang mukmin dan ancaman terhadap orang-orang kafir dan munafik.
3.      Kecaman terhadap orang-orang yang tidak ikut berperang yakni kabilah-kabilah aslam,junainah,muzainah,dan gifar.
4.      Keridaan Allah terhadap orang-orang mukmin yang berbiat kepada rosulullah saw di bawah pohon. Dan janji-Nya kepada mereka akan mendapat pertolongan di dunia dan surga di akhirat.
5.      Gabar gembira tenteng terlaksananya mimpi rasulullah saw. Bahwa orang-orang mukmin akan masuk masjidil haram dengan aman. Dan hal itu memang benar-benar terlaksana pada tahun berikutnya.
6.      Sifat nabi saw dan orang-orang mukmin yang ada bersamanya sebagai umat yang bebas kasih dan bersikap tegas.
7.      Janji Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa mereka akan mendapat ampunan dan pahala yang besar.










DAFTAR PUSTAKA
                       
Jalaludin Al-Imam Muhammad Al-Mahalli.,Jalaludin Al-Imam Abdurrahman As-Suyuthi. 2011. Tafsir Jalalin. Surabaya: Pustaka eLBA.
Departeman Agama RI.2009. Al-Qur’an dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan ). Jakarta: Departemen Agama RI.
Mustofa Ahmad Al-Maragi., Al-Babi Mustofa Al-Halabi. 1993.Tafsir Al-Maragi. semarang:PT.Karya Toha Putra.



[1] Al-Imam Jalaludin Muhammad Al-Mahalli, Al-Imam Jalaludin Abdurrahman As-Suyuthi, Tafsir Jalalin, Surabaya: Pustaka eLBA, 2011, hlm. 467
[2]Ahmad Mustofa Al-Maragi, Mustofa Al-Babi Al-Halabi,Tafsir Al-Maragi ,semarang:PT.Karya Toha Putra,1993,hlm.192-193
[3] Departeman Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan ), Jakarta: Departemen Agama RI, 2009, hlm. 385-386
[4] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan tafsirnya (Edisi yang disempurnakan), Jakarta: Departemen Agama RI ,2009,hlm.390-391
[5] Ahmad Mustafa Al-Maragi, Mustafa Al-Babi Al-Halabi, Tafsir Al-Maragi, Semarang: PT.Karya Toha Putra,1993, hlm.194-197

TUJUAN PENDIDIKAN (FUNGSI AL-QUR'AN)



TUJUAN PENDIDIKAN (FUNGSI AL-QUR’AN)

                  Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas 
                        Mata Kuliah            :    Tafsir Tarbawi
         Dosen Pengampu    :    Mohammad Hasan Bisyri, M.Ag.








Disusun Oleh:

                                                         A. BAHRUL ULUM    (2021213006)



JURUSAN TARBIYAH PAI ( KELAS L)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
STAIN PEKALONGAN
2014

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Seperti yang kita ketahui, bahwa Alqu’an adalah Firman Allah (kalamullah) yang diturunkan kepada  Nabi Muhammad SAW, melalui malaikat Jibril  secara berangsur-angsur yang merupakan mukjizat,dan berfungsi sebagi petunjuk bagi manusia dan penjelas atas petunjuk tersebut serta sebagai pembeda antara yang haq dan bathil agar bisa membebaskan manusia dari kesesatan menuju jalan yang lurus. Atas dasar tersebut , kami akan mencoba menjelaskan Tafsir surat Ali Imran ayat 137-139 yang menjelaskan salah satu fungsi Al-Qur’an dari beberapa fungsi lainnya. Yaitu yang mana Al-Qur’an sebagai petunjuk  untuk membimbing  menuju jalan yang benar agar kita  menjadi orang yang beriman dan bertaqwa.
B.     Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang tersebut perlu rumusan masalah sebagai  pijakan untuk terfokusnya kajian makalah. Adapun rumusan masalah sbb:
1.  Bagaimana bunyi Qur’an Surat Ali Imran ayat 137-139?
2.  Bagaimana terjemahan Qur’an Surat Ali Imran ayat 137-139?
3.  Apa sebab nuzul Qur’an Surat Ali Imran ayat 137-139?
4.  Apa makna muradah dalam surat Ali Imran ayat 137-139?
5.  Bagaimana tafsir Qur’an surat Ali Imran ayat 137-139?
6.  Kandungan hukum apa yang terdapat dalam Qur’an Surat Ali Imran ayat 137-139?




i
C.    Metode Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui studi liberatur atau metode kajin pustaka, yaitu dengan menggunakan beberapa referensi buku atau dari referensi lainnya yang merujuk pada permasalahan yang dibahas. Adapun langkah-langkah pemecahan masalahnya dimulai dengan menentukan masalah yang akan dibahas dengan melakukan rumusan masalah, melakukan langkah-langkah pengkajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran, perumusan jawaban permasalahan dari berbagai sumber dan pengorganisasian jawaban permasalahan.

D.    Sistematika Penulisan Makalah
                     Makalah ini ditulis dalam 3 bagian meliputi:
Bab I, Bagian pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang masalah, rumusan masalah, metode pemecahan masalah, dan sistematika penulisan makalah;
Bab II, Pembahasan;
Bab III, Bagian penutup yang terdiri dari simpulan.













ii
BAB II
PEMBAHASAN
TUJUAN PENDIDIKAN (FUNGSI Al-QUR’AN)

A.    Surat Ali Imran Ayat 137-139
قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيْرُوْا فِى الْأَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ (   )
هَذّا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ وَهُدًا وَ مَوْعِظَةٌ لِّلْمُتَّقِيْنَ (  ) وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُرْا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ
إِنْكُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ (  )
B.     Terjemahan surat Ali Imran ayat 137-139

“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah[230]; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).
(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”

C.    Sebab Nuzul
Pembicaraan pada ayat-ayat terdahulu menceritakan Perang Uhud dan berbagai pristiwa penting. Kemudian Allah mengingatkan kaum mukminin tentang Perang Badar dan apa-apa yang telah dipastikan untuk mereka, sekalipun jumlah personil pasukan dan peralatanya sangat minim.[1]
1
Bagian ini dimulai dengan menunjukkan kepada kaum mukminin dalam Perang Uhud yang mana dalam ayat-ayat yang telah lalu Tuhan menerangkan, kalau sekiranya mereka berpegang teguh pada sabar, takwa dan tawakal, malaikatpun akan datang membantu. Tetapi antara mereka ada yang mengharapkan semata-mata rampasan perang, lalu meninggalkan ketaatan kepada Rasulullah, sehingga Rosul sendiri nyaris mati dibunuh dan telah luka.[2]
Ibnu Abbas RA berkata, “ Pada perang Uhud, para sahabat Rasulullah SAW kocar kacir. Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Khalid bin Walid datang dengan sebuah pasukan berkuda dari kaum musyrik. Dia ingin menguasai gunung hingga posisinya berada di atas para sahabat Rasulullah SAW. Maka Allah SWT menurunkan ayat 139, surat Ali Imran. Ketika itu juga, sejumlah pemanah kaum muslimin segera berlari menaiki gunung dan menghujani pasukan berkuda kaum musyrik dengan anak panah. Hingga akhirnya mereka kalah.[3]
Orang-orang muslim sejati sudah seharusnya lebih utama mengetahui sunnatullah tersebut, dan lebih pantas berjalan sesuai dengan petunjuk sunah itu. Oleh karena itu sahabat Nabi saw. menyadari kekeliruan mereka sewaktu perang Uhud. Lalu segera mereka membela diri dari Nabi saw. sampai kaum musyrikin bubar tanpa memperoleh hasil.[4]



2
Setelah selesai peperangan Uhud yang telah menewaskan tujuh puluh Mujtahid fi Sabilillah, antaranya Hamzah bin Abdul Mutholib, paman Nabi s.a.w. sendiri dan Nabi s.a.w. pun mendapat luka , kelihatan kelesuan, lemah semangat  dan dukacita; maka datanglah ayat ini : angkat mukamu, jangan lemah dan jangan dukacita.
Sebab suatu hal masih ada padamu, modal tunggal yang tak pernah dapat dirampas oleh musuhmu, yaitu iman. Jikalau kamu masih mempunyai iman dalam dadamu, kamulah yang tinggi dan akan tetap tinggi. Sebab iman itu adalah pandumu menempuh zaman depan yang masih akan mau dihadapi.[5]
D.    Makna Mufrodat

1.       خَلَتْ                     :  telah  berlalu
2.         أَلسُّنَنُ                : bentuk tunggalnya sunatun ,yaitu cara yang      
  Dipakai dan perjalanan yang diikuti.
3.       عقِبَةُ                     : akhir perkara.
4.        هُذَا                       : ini “Al-Qur’an”
5.       بَيَانٌ                         : penjelasan tentang akibat jelek yang
    mereka lakukan berupa kebohongan.[6]
6.      هَدًى                      : penambah terang mata hati.
7.      أَلْمَوْعِظَةُ                 : suatu hal yang bisa melunakkan hati dan
   Kepada ketaatan yang ada padanya.


3
8.      أَلْوَهْنُ(وَلَاتَهِنُوْا)      : Janganlah kalian bersikap lemah (lemah dalam
   Beramal, Berfikir dan dalam menjalankan  perkara
9.       أَلْحَزْنُ (وَلَاتَحْزَنُوْا)              : janganlah (pula) kamu bersedih hati (perasaan
   yang menimpa Jiwa bila kehilangan sesuatu yang
  dicintainya)
10.          وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ       : Sedangkan kamu adalah orang-orang yang paling
   tinggi   drajatnya.
11.    إِنْكُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ        : Jikalau kamu orang-orang yang beriman.[7]

E.     Tafsir
“ Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunah-sunah Allah.”
Dalam ayat ini dan sesudahnya Allah mengingatkan mereka tentang sunnah-sunnah Allah pada makhlukNya. Barang siapa berjalan pada tatanan sunnah tersebut, ia akan sampai pada kebahagiaan. Dan barang siapa menyimpang darinya, maka ia akan tersesat, akibatnya adalh sengsara dan kehancuran. Perkara yang hak itu past harus menang akan kebatilan.[8] Oleh karena itu, ayat ini memerintahkan untuk mempelajari sunnah, yakni kebiasaan-kebiasaan atau ketetapan Ilahi dan masyarakat. Sunnatullah adalah kebiasaan-kebiasaan Allah dalam memperlakukan masyarakat. Perlu diingat bahwa apa yang dinamai hukum-hukum alam pun adalah kebiasaan-kebiasaan yang dialami manusia.[9]
Terkait dengan Sunnatullah, maka Allah memberikan petunjuk kepada mereka agar mengambil pelajaran dari apa yang pernah dialami oleh orang-orang sebelum mereka. Allah swt berfirman:
4
“Karena itu, berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”
Berjalanlah kalian dimuka bumi ini dan renungkanlah peristiwa-peristiwa yang telah menimpa umat sebelum kalian. Jadikanlah hal tersebut sebagai pelajaran, agar kalian mendapatkan ilmu yang benar, yang didasari oleh bukti. Berjalan dimuka bumi untuk menyelidiki keadaan orang-orang dahulu guna menyimak yang telah menimpa mereka, merupakan alat pembantu yang paling baik untuk mengetahui sunnah dan mengambil pelajaran darinya.[10]
“Ini adalah penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.”
Al-Qur’an adalah penerangan bagi manusia secara keseluruhan. Ini adalah kutipan peristiwa kemanusiaan yang telah jauh berlalu, yang manusia sekarang tidak akan dapat mengetahuinya kalau tidak ada peneranganyang menunjukannya. Akan tetapi hanya segolongan manusia tertentu saja yang mendapatkan petunjuk di dalamnya, mendapatkan pelajaran padanya, mendapatkan manfaatnya, dan menggapai petunjuknya. Mereka itu adalah golongan “Muttaqin” yaitu orang-orang yang bertaqwa.[11] Hal ini sesuai dengan Firman Allah surat Al-Baqarah ayat : 2
ذلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ.
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa”.


5
Allah menurunkan al-Qur’an sebagai penerangan yang memberi keterangan dan menghilangkan kesangsian serta keraguan  bagi seluruh manusia. Al-Qur’an juga berfungsi sebagai petunjuk untuk memberi bimbingan masa kini dan yang akan datang menuju kearah yang benar.
 Al-Qur’an sebagai peringatan yang halus dan berkesan menyangkut hal-hal yang tidak wajar bagi orang yang bertaqwa, yang antara lain mampu mengambil hikmah dan pelajaran sebagai sunnatullah yang berlaku dalam masyarakat.[12]
“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (drajatnya), jika kamu orang beriman.”
Uraianya diantar oleh dua ayat sebelum ini yang menerangkan tentang adanya sunnah atau hukum-hukum kemasyarakatan yang berlakau terhadap semua manusia dan masyarakat. Kalau dalam perang Uhud mereka tidak meraih kemenangan, bahkan menderita luka dan pembunuhan, dan dalam perang Badar mereka dengan gemilang meraih kemenangan dan berhasil menawan dan membunuh sekian banyak lawan mereka, maka itu adalah bagian dari Sunnatullah. Namun demikian, mereka tidak perlu berputus asa. Karena itu, janganlah kamu lemah, menghadapi musuhmu dan musuh Allah, kuatkan jasmaninya dan janganlah pula kamu bersedih, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi drajatnya di sisi Allah di dunia dan di Akhirat, di dunia karena apa yang kamu perjuangkan adalah kebenaran dan di akhirat karena kamu akan mendapat surga. Jadi mengapa kamu bersedih sedangkan yang gugur diantara kamu menuju surga dan yang luka mendapat pengampunan Ilahi,ini jika kamu orang-orang mukmin, yakni jika benar-benar keimanan telah mantap dalam hatimu.[13]
6
Oleh karena itu, kamu tidak perlu bersikap lemah dan bersedih hati atas apa yang menimpamu dan luput darimu karena kamu adalah orang-orang yang paling tinggi drajatnya.
Akidahmu lebih tinggi karena kamu hanya bersujud kepada Allah saja, sedangkan mereka bersujud kepada sesuatu dari makhluq ciptaanNya. Maka, jika kamu benar-benar beriman, niscaya kamu adalah orang-orang  yang paling tinggi drajatnya. Jika kamu benar-benar beriman , maka janganlah merassa lemah dan bersedih hati. Karena itu adalah sunnah Allah, yang bisa ditimpakan pada siapa saja yang Allah kehendaki. Akan tetapi, hanya kamulah yang akan mendapatkan akibat yang baik setelah kamu berijtihad dan berussaha keras setelah menemph ujian.[14]
F.     Kandungan Hukum
Sunatullah(ketentuan yang ditetapkan Allah) tetap berlaku dan tidak akan berubah. Sunnah tersebut antara lain adalah “yang melanggar perintahNya dan RosulNya akan binasa, dan yang mengikutinya berbahagia.” Sunnah-sunnah itu ditetapkan Allah demi kemaslahatan manusia, dan itu semua dapat terlihat dengan jelas dalam sejarah dan pninggalan umat-umat yang lalu.
Mempelajari sejarah umat-umat yang dahulu dan melihat bekasnya dengan melawat pengembara dengan sendirinya akan memperoleh penjelasan, petunjuk dan pengajaran. Ilmu kita akan bertambah-tambah tentang perjuangan hidup manusia di dalam alam ini. Dalam ayat ini kita berjumpa dengan anjuran mengetahui dua tiga ilmu yang amat penting. Pertama, Sejarah; kedua, ilmu bekas peninggalan kuno; ketiga, ilmu siasat perang; keempat ilmu siasat mengendalikan negara. Di dalam sejarah misalnya, banyak kita bertemu dengan hal-hal penting.[15]
7
 Meskipun tidak seluruh sejarah ditulis dalam al-qur’an hanya kebanyakan yang berkenaan dengan perjuangan Rasul-rasul, misalnya perjuangan Musa menentang ke dzaliman Fir’aun, atau Ibrohim  menghadapi kaumnya Raja Namrud, namun yang tidak tertulis dalam al-Qur’an dapat kita cari dalam bahan lain. Misalnya penyerbuan tentara Iskandar Macedonia dari Barat ke Timur. Mengapa Iskandar dengan tentaranyayang tidak cukup 100.000 orang dapat mengalahkan tentara Darius, Raja Persia yang jumlahnya hampir setengah juta? Sebab tentara Iskandar enteng, sigap dan lincah. Sedang tentara Darius ke medan perang telah berat oleh pakaian dan perhiasan. Darius hanya menggantungkan kekuatan kepada banyaknya bilangan. Padahal Iskandar mempunyai disiplin yang teguh dan tentara yang cekatan.
Terbukti dengan memperhatikan orang memperoleh penjelasan, petunjuk dan pengajaran bagi orang yang bertakwa. Di sini kita dapat mengetahui lagi betapa luasnya arti takwa. Pokok arti ialah memelihara hubungan dengan Allah dan takut kepadaNya. Tetapi dalam ayat ini kita bertemu lagi dengan arti lain, yaitu memelihara, menjaga, awas dan waspada. Maka dengan demikian taat kepada Allah tidaklah cukup dengan ibadah shalat, berzakat dan puasa saja. Tetapi termasuk lagi dalam rangka ketakwaan  ialah kewaspadaan menjaga agama dari intaian musuh. Taat kepada komando pemimpin. Sebab kalau kalah karena ada kewaspadaan, jangan Allah disalahkan, tetapi salahkanlah diri sendiri yang lengah.[16]
Hal ini patut menjadi pelajaran bagi orang yang bertakwa karena musibah yang menimpa kaum Muslimin dalam Perang Uhud adalah karena mereka tidak memenuhi ketentuan-ketentuan yang ditetapkan Allah untuk mencapai kemenangan.

8
Al-Qur’an telah memberikan petunjuk kepada kita tentang masalah-masalah strategis pertempuran menghadapi musuh sampai bagaimana kita mempersiapkan diri. Dalam hal ini kita dianjurkan mengetahui hakikat persiapan supaya kita melangkah dengan kewaspadaan dalam membela hak.[17]
                   Sesungguhnya Allah melarang merasa susah terhadap apa yang telah lewat, karena hal tersebut akan mengakibatkan orang kehilangan semangatnya. Dan Allah memerintah untuk membuat persiapan, menyediakan segala peralatan, termasuk dengan tekad dan semangat yang benar, disamping keteguhan hati  dan bertawakal kepada Allah, adalah supaya  bisa meraih kemenangan dan mendapatkan apa yang diinginkan, serta dapat mengembalikan kerugian atau kekalahan yang mereka dapat.
















9
BAB III
PENUTUP


A.    Simpulan

Sunatullah (ketentuan yang ditetapkan Allah) tetap berlaku dan tidak akan berubah. Allah menyuruh umat manusia mengadakan perjalanan dimuka bumi, untuk meneliti dan mengamati, sehingga mereka mengetahui bahwa Allah dalam sunahNya telah mengaitkan antara sebab dengan musababnya.
Hal ini patut patut menjadi pelajaran bagi orang yang bertaqwa karena musibah yang menimpa kaum Muslimin dalam perang Uhud adalah karena mereka tidak memenuhi ketentuan-ketentuan yang ditetapkan Allah untuk mencapai kemenangan.
Dalam hal ini orang mukmin dilarang bersikap lemah dan kecewa, karena mereka lebih tinggi drajatnya jika mereka benar-benar beriman.











iii
DAFTAR PUSTAKA

Abdulkarim Amrullah, Haji Abdulmalik. 1983. Tafsir Al-Azhar, Jakarta: PT Pustaka Panjimas.
Al-Maragi, Ahmad Mustafa. 2012. Tafsir Al-Maagi, (Edisi Elit ke-2). Semarang: PT. Karya Toha Putra.
Al-Qurthubi, Syaikh Imam. 2008. Tafsir Al-Qurthubi, (edisi terjemahan oleh Dudi Rosyadi, Nashirul Haq, dan Fathurrahman), Jakarta: Pustaka Azzam.
Bin Muhammad Al-Mahahlli, Jalaluddin Muhammad bin Ahmad, Al-Imam dan As-Suyuthi, Jalaluddin Abdurrahman bin. Abu Bakar, Al-Imam. 2011. Tafsir Jalalain, Surabaya: Pustaka Elba.
Shihab,M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah: Pesan Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati.
Quthb, Sayyid. 1992. Fi Zhilalil Qur’an, Beirut: Darusy-Syuruq.












iv


       [1] Ahmad Mustofa Al-Maghriibi, Tafsir Al-Maraghi (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 2012), hlm. 103.
       [2] Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), Tafsir AL-Azhar (Jakarta: PT Pustaka Panjimas, 1983), hlm.94.
       [3]  Syaikh Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), hlm. 539-540.
       [4] Ahmad Mustafa Al-Maragi, op. Cit., h. 104-105.
       [5] Hamka (Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah), op. Cit., h. 97
       [6]  Ahmad Mustafa Al-Maragi, op. Cit., h. 102.             
       [7]  AL-Imam Jalaluddin Muhammad Al-Mahalli dan Al-Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi, Tafsir Jalalain (Surabaya: PT.eLBA, 2011), hlm. 280.
       [8] Ahmad Mustofa Al-Maghriibi, op. Cit., h. 103.
       [9] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan Kesan dan Keserasian Al-Qur’an (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 225.
       [10] Ahmad Mustofa Al-Maghriibi, op. Cit., h. 105.
       [11] Sayyid Qutb, Fi Zhilalil Qur’an jild II (Beirut: Darusy-Syuruq, 1992), hlm. 167.
       [12]  M. Quraish Shihab,op.cit,. h.224.
       [13] Ibid., h. 226-227
       [14]  Sayyid Qutb, op. Cit., h. 168.
       [15] Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), op. Cit., h. 95.
       [16]  Ibid,. h. 97
       [17]  Ahmad Mustofa Al-Maghriibi, op. Cit., h. 107.